 Pelangi yang menjemputmu pulang seperti gadis mungil berpita jingga yang berlari kecil menggandeng tanganmu dengan senyum riang dan tak henti memandang mentari merah jambu yang berpijar dari lembut matamu
Namun saat kau menganggap setiap larik warnanya tak jua bisa menyentuh hatimu sang gadis mungil sontak menjelma menjadi barisan mendung hitam yang menyamarkan pesona mata merah jambu itu bahkan pada noktah terkecil sekalipun
Seperti dia, lelaki tepi danau yang tekun menyulam angan menunggumu bersama benang kangen bergulung-gulung, kau masih tetap termangu diam pada titik tertinggi puncak bianglala dengan rindu menikam sambil menyaksikan setangkai asa yang kau titipkan pada hujan senjakala luruh bersama bisu juga pilu pada mentari di merah jambu matamu
Adakah lelaki tepi danau menangkap cahaya mata indah itu walau hanya dari pantulan jernih air lalu menangkap setiap desir asa yang jatuh bersamanya dan menjadikannya bingkai lukisan sulaman kangennya?
Cikarang, 090508, After Midnight
Catatan:
--Sajak ini adalah jawaban atas tantangan rekan Kalonica untuk "perang puisi" seperti pada posting saya disini..
--Foto diambil dari Blog Kalonica
 | waaahh ... indahnya
Kalonica pasti seneng nih |
 | Luar biasa indah. Saya pun tersentuh membacanya. Saya ijin Copas ya, sama gambar2nya sekalian. Royaltinya hitung saja ya pak... ^_^
Mau saya persembahkan untuk suami tercinta |
 | wah bagusssss bgt pak Amril puisinya...
great |
 | Subhanallah. *bengong*
Kata2nya terangkai sangat indah Bang. Memberi makna dan rasa dalam tiap tiap hurufnya. Bener2 bagus.. Abang bener2 Pujangga. Akan saya simpan dgn baik dan saya kirimkan ke lelaki yg berada di "kutub". Dia pasti akan senang membaca ini.. Syukron jiddan.. |
 | Hebat benar! Puisi yang sangat indah dan memukau hati! Ayo Kalonica, ditunggu balasannya! |
 | subhanallah,... terpana aku membacanya memang puisi abang indah tak terkira :) |
 | Wah saya jadi pingin bikin puisi breng kk Taufiq. Tp bs nyambung gak yah? (Berharap banget kk Taufiq berkenan mengajari) |
| |